Dari 1965 hingga Reformasi: 3 Novel Terbaik Karya Leila S. Chudori

 

Leila S. Chudori adalah seorang jurnalis senior dan penulis novel terkemuka asal Indonesia yang dikenal luas karena karya-karyanya yang kuat, penuh emosi, dan sarat muatan sejarah serta isu sosial-politik. Ia lahir pada 12 Desember 1962 di Jakarta, dan telah aktif di dunia tulis-menulis sejak usia remaja. Leila menghabiskan sebagian masa mudanya di luar negeri, termasuk di Kanada dan Prancis, dan ini sangat memengaruhi perspektif global dan kedalaman tematik dalam karya-karyanya.

Selain berkarier sebagai penulis fiksi, Leila juga dikenal sebagai jurnalis Majalah Tempo. Namun, namanya di dunia sastra mencuat kuat setelah menerbitkan kumpulan cerpen 9 dari Nadira (2009), lalu disusul dengan novel Pulang (2012) yang menggambarkan kehidupan para eksil Indonesia pasca 1965 di Paris, serta Laut Bercerita (2017) yang berkisah tentang aktivis mahasiswa yang hilang menjelang Reformasi 1998. Karya-karyanya banyak dipuji karena berhasil menjembatani antara dokumentasi sejarah dan narasi sastra yang menggugah, menjadikannya salah satu suara paling penting dalam sastra Indonesia kontemporer.

1. Laut Bercerita

Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan sebuah karya yang mengangkat tema tentang peristiwa kelam yang terjadi pada periode 1965 di Indonesia, terutama tragedi penculikan dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh rezim Orde Baru terhadap aktivis-aktivis mahasiswa dan pemuda yang terlibat dalam gerakan reformasi. Novel ini terdiri dari dua bagian yang saling berkaitan, yaitu bagian pertama yang diceritakan dari sudut pandang Laut (Biru Laut), seorang mahasiswa yang terlibat dalam pergerakan mahasiswa pada 1965, dan bagian kedua yang diceritakan dari sudut pandang adiknya, Asmara Jati, yang bertahun-tahun berusaha mencari jejak kakaknya yang hilang.

Cerita dimulai dengan latar belakang sejarah Indonesia pada masa transisi Orde Baru, ketika situasi politik dan sosial sangat tegang. Laut, yang berusia sekitar 20 tahun saat itu, terlibat dalam kegiatan pergerakan mahasiswa yang mengkritik pemerintah. Sebagai seorang aktivis yang penuh idealisme, Laut percaya bahwa perjuangan mereka akan membawa perubahan bagi Indonesia yang lebih baik. Namun, impian itu segera terkubur ketika ia diculik oleh aparat keamanan. Keberadaan Laut yang hilang menjadi misteri yang menyayat hati, tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi teman-teman seperjuangannya.

Bagian kedua novel ini lebih fokus pada pencarian Asmara Jati, adik perempuan Laut yang berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya. Jati berusaha menuntut keadilan dan mencari jawaban tentang keberadaan Laut yang hilang. Namun, pencariannya tidak mudah. Dia harus menghadapi ketidakpastian, ketakutan, dan hambatan dari sistem yang sudah tertanam kuat. Di sepanjang perjalanan, Jati berusaha mengungkap kebenaran yang selama ini ditutupi oleh negara dan menghadapi kenyataan pahit tentang apa yang terjadi pada kakaknya dan ribuan korban penghilangan lainnya.

2. Pulang

Dimas Suryo, Nugroho Dewantoro, Risjaf, dan Tjahjadi Sukarna (Tjai Sin Soe) adalah empat pemuda yang pada saat kemelut politik September 1965 tengah berada di luar negeri. Ketiganya merupakan wartawan Kantor Berita Nusantara kecuali Tjai. Sebelum peristiwa 30 September 1965 Dimas Suryo dan Nugroho menghadiri konferensi International Organization of Journalist di Santiago, Chile. Sedangkan, Risjaf menghadiri event lain di Havana, Kuba. Di lain pihak, Tjai beberapa waktu setelah peristiwa 30 September 1965 dia pergi ke Singapura. Mengetahui gonjang-ganjing politik di Indonesia yang tengah memanas karena siapa saja bisa dengan mudah dikaitkan dengan PKI, terlebih status mereka yang merupakan wartawan Kantor Berita Nusantara yang kala itu kental dicap sebagai sarang PKI. Mereka memutuskan untuk tidak pulang karena sangat berbahaya, persoalan yang mendasar adalah paspor mereka dicabut, sehingga pulang ke tanah air adalah mustahil.
Peristiwa ini kontan membuat mereka menyandang status buangan politik. Keempat orang ini bertemu di Paris, setelah betahun-tahun menetap dan mencari pengidupan di Paris, mereka akhirnya memperoleh status sebagai warga negara Prancis. Untuk bertahan hidup, setelah menjalani sejumlah pekerjaan serabutan, mereka mendirikan restoran masakan Indonesia yang mereka namai “Restoran Tanah Air”.

Dimas Suryo salah satu tokoh di novel ini menikah dengan perempuan Prancis, Vivienne Deveraux berhasil memperoleh visa dan menginjakkan kaki di Indonesia pada Mei 1998. Vivienne memiliki misi untuk menyelesaikan tugas akhir perkuliahan dengan merekam pengalaman korban peristiwa 30 September 1965. Sebulan setelahnya, Ayahnya, Dimas Suryo bisa pulang ke tanah air tercintanya meski sudah menjadi satu dengan tanah.

3. Namaku Alam

Novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori berpusat pada seorang lelaki muda bernama Alam yang hidup dalam bayang-bayang masa lalu keluarganya yang penuh dengan luka dan ketegangan. Alam, yang tumbuh di tengah pergolakan politik dan pergeseran nilai-nilai sosial di Indonesia, berusaha mencari jati diri di tengah tekanan yang datang dari luar dirinya. Sebagai anak dari seorang tokoh penting dalam sejarah politik Indonesia, ia terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang tidak bisa ia lupakan, namun juga sulit untuk dipahami sepenuhnya.

Leila S. Chudori menggambarkan dengan indah dan penuh emosi bagaimana Alam berjuang untuk keluar dari cengkraman trauma sejarah dan mencari jalan untuk meraih kedamaian dalam hidupnya. Dalam proses ini, Alam berhadapan dengan berbagai dilema moral dan sosial, mencoba untuk menyatukan potongan-potongan memori yang terpecah dan memahami tempatnya dalam keluarga dan masyarakat yang terpecah akibat konflik masa lalu. Novel ini mengangkat tema-tema besar seperti pengampunan, identitas, dan kesadaran akan sejarah yang tak terhindarkan, namun dengan gaya penceritaan yang sangat pribadi dan penuh keintiman.

Kekuatan utama dari Namaku Alam terletak pada cara Leila membangun karakter Alam yang sangat manusiawi dan kompleks. Pembaca bisa merasakan betul pergulatan batin yang dialami Alam, dari keraguan tentang dirinya sendiri hingga pencarian makna hidup yang lebih besar. Penulisan Leila yang puitis dan penuh dengan simbolisme juga menambah kedalaman cerita, menjadikannya lebih dari sekadar kisah personal, tetapi juga sebuah komentar sosial dan politik tentang bagaimana sejarah membentuk dan menghantui kehidupan kita.

Secara keseluruhan, Namaku Alam adalah sebuah karya yang menyentuh, penuh dengan ketegangan emosional dan pemikiran mendalam tentang bagaimana kita memandang diri kita sendiri dan masa lalu kita. Leila S. Chudori berhasil menggabungkan narasi pribadi dengan resonansi sosial yang kuat, menciptakan sebuah karya sastra yang tak hanya menghibur, tetapi juga memberi pencerahan tentang pentingnya menyembuhkan luka-luka masa lalu. Novel ini cocok untuk pembaca yang ingin merenung lebih dalam tentang identitas, keluarga, dan pengaruh sejarah dalam kehidupan kita.

Komentar

Postingan Populer