Keigo Higashino: Maestro Misteri dari Jepang dan 5 Karya Terbaiknya



Keigo Higashino adalah seorang penulis novel misteri ternama asal Jepang yang dikenal luas berkat karya-karyanya yang cerdas, penuh teka-teki, dan menggugah emosi. Ia lahir pada 4 Februari 1958 di Osaka dan memulai kariernya sebagai insinyur sebelum akhirnya terjun penuh ke dunia sastra setelah memenangkan Edogawa Rampo Prize pada tahun 1985 lewat novel Hōkago (After School). Keistimewaan karya-karya Higashino terletak pada cara ia merangkai misteri yang bukan hanya menantang logika, tetapi juga menyentuh sisi psikologis dan emosional tokohnya. Ia kerap mengajak pembaca menyelami motif terdalam dari tindakan kriminal, menjadikan pertanyaan "mengapa" sering kali lebih penting daripada "siapa pelakunya." Tokoh detektif ciptaannya seperti Profesor Yukawa (alias Detektif Galileo) dan Detektif Kusanagi telah menjadi ikon dalam dunia fiksi misteri Jepang. Beberapa novelnya yang paling dikenal secara internasional antara lain The Devotion of Suspect X, Malice, Salvation of a Saint, dan The Miracles of the Namiya General Store. Dengan perpaduan antara logika tajam dan sentuhan humanis, Keigo Higashino berhasil menciptakan cerita-cerita yang sulit dilupakan dan terus dicari oleh para pecinta misteri di berbagai belahan dunia.

1. Tragedi Pedang Keadilan

Novel Tragedi Pedang Keadilan adalah sebuah novel terjemahan karya Keigo Higasino yang diterjemahkan Gramedia pada awal tahun 2024. Novel ini adalah karya Keigo kedua yang aku baca setelah Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Yang jika aku bandingkan keduanya, rasanya sangat berbeda karena Toko Kelontong Namiya lebih kearah 
slice of life, sedangkan Tragedi Pedang Keadilan ini lebih fokus pada sebuah kasus pembunuhan yang disertai kritik hukum pidana anak. Jadi novel ini menceritakan tentang Nagamine yang melakukan misi balas dendam atas kematian putrinya yang di tangkap, dianiaya, diper-kosa, lalu tidak sengaja terbunuh oleh dua anak remaja dibawah umur bernama Kaiji dan Atsuya. Awalnya Nagamine menyerahkan kasus ini kepada pihak polisi karena tidak tahu harus melakukan apa. Tapi setelah mendapat telpon anonim yang memberitahunya siapa pelaku yang membunuh putrinya serta mengetahui apa yang dilakukan para pelaku itu pada putrinya, laki-laki itu memutuskan untuk membalaskan dendam dengan kedua tangannya sendiri karena tahu Hukum Pidana Anak akan melindungi mereka.

Novel ini banyak membahas bagaimana tidak adilnya Hukum Pidana Anak dalam menyelesaikan suatu kasus. Bukannya memberikan hukuman yang setimpal, sistem peradilan justru akan melindungi pelaku kejahatan dan memberikan kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar, bahkan tidak mengungkap identitas mereka pada masyarakat hanya karena mereka "masih dibawah umur"

Yang bikin aku benci banget sama pelakunya adalah mereka benar-benar tidak merasa bersalah setelah apa yang mereka lakukan ke banyak korban mereka. Mereka menganggap hal itu hanyalah kenakalan remaja biasa, ditambah dengan sistem hukum yang ada, mereka tahu mereka tidak akan dikenai sanksi yang berat atas kejahatan yang mereka lakukan. Orangtua para pelaku ini juga terlihat tidak peduli dengan apa yang anak mereka lakukan dan cenderung melindungi anak mereka, hal ini mencerminkan betapa tidak bertanggung jawabnya mereka menjadi orangtua yang seharusnya dapat mendidik anak mereka menjadi anak yang baik.

Maka pertanyaannya, dimanakah letak keadilan itu sebenarnya? Disaat para korban menderita,  justru pelaku kejahatan tidak mendapat ganjaran yang setimpal. Baca novel ini rasanya cape, pengen marah, dan menguras emosi banget. Ada beberapa adegan di buku ini yang buat aku harus berhenti sejenak buat menenangkan diri dulu baru lanjut baca. Tapi dibalik itu semua, buku ini bagus banget dan worth it buat dibaca.

2. Masquerade Hotel

Seperti karya Keigo Higashino yang lainnya, Masquerade Hotel adalah novel yang sangat menarik untuk dibaca. Bercerita tentang kasus pembunuhan berantai yang terjadi di Tokyo. Disetiap lokasi pembunuhan, ditemukan serangkai angka yang ternyata merupakan informasi waktu dan tempat dimana pembunuhan berikutnya akan dilakukan. Hal itu membuat pihak polisi harus menyamar menjadi staf hotel bintang lima untuk mencegah terjadinya kasus pembunuhan yang diduga akan terjadi disana. Salah satu hal yang buat aku suka banget sama buku ini adalah hubungan antara Nitta dan Naomi yang lucu wkwk. Sebagai seorang polisi profesional, Nitta yang harus menyamar menjadi staff hotel selalu curiga terhadap tamu-tamu yang datang ke hotel tersebut. Sedangkan Naomi, sebagai staff hotel bintang lima yang sudah terlatih dengan baik harus bersabar membimbing Nitta yang keras kepala dan susah diatur. Profesionalitas mereka patut diacungi jempol sihh.

Menurutku dibanding buku Keigo yang lainnya, novel ini memiliki jalan cerita yang ringan dan sangat menghibur. Plot twist nya menurutku agak kurang sih, tapi cerita tentang tamu-tamu yang aneh udah cukup buat aku greget dan penasaran.

3. Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama

Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama
adalah salah satu novel terbaru Keigo Higashino yang kembali menampilkan kepiawaiannya dalam meramu cerita misteri yang unik dan penuh kejutan. Dalam novel ini, Higashino memperkenalkan karakter utama yang tidak biasa: Tenma, seorang pesulap jalanan yang eksentrik dan penuh gaya, namun ternyata menyimpan kecerdasan tajam dalam menyelesaikan kasus kriminal. Kisah dimulai dengan ditemukannya mayat seorang pria di kota kecil yang seolah kehilangan identitas, tidak hanya pada korban, tetapi juga pada sejarah kota itu sendiri. Kota tersebut digambarkan sebagai tempat yang stagnan, nyaris terlupakan, dan dihantui oleh masa lalu yang kelam. 
Takeshi, yang memiliki hubungan pribadi dengan korban, memutuskan untuk turun tangan, dibantu oleh keponakannya, Mayo, seorang psikolog yang logis dan skeptis terhadap metode sang paman. Dinamika antara keduanya memberi warna tersendiri pada investigasi yang mereka jalani, menggabungkan sudut pandang rasional dengan intuisi dan trik-trik ilusi. Higashino tidak hanya menyajikan misteri pembunuhan konvensional, tetapi juga mengajak pembaca merenungi tema yang lebih dalam tentang identitas, penyesalan, dan bagaimana masa lalu bisa membentuk – bahkan menghancurkan – seseorang dan sebuah komunitas. Alur cerita yang bergerak perlahan namun intens, dengan atmosfer kota yang sunyi dan karakter-karakter yang menyimpan luka batin, menciptakan suasana yang mencekam sekaligus melankolis. Black Showman dan Pembunuhan di Kota Tak Bernama adalah novel yang bukan hanya menguji logika pembaca, tetapi juga menyentuh sisi emosional, menjadikannya salah satu karya Keigo Higashino yang layak mendapat perhatian lebih.

4. Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Keajaiban Toko Kelontong Namiya
adalah salah satu karya paling menyentuh dari Keigo Higashino yang menunjukkan sisi humanis dan filosofis dari penulis yang lebih dikenal lewat novel-novel misteri kriminal. Berbeda dari kisah-kisahnya yang penuh intrik dan logika deduktif, novel ini mengusung genre drama fantasi dengan balutan misteri yang lembut. Cerita bermula saat tiga pemuda yang tengah melarikan diri dari kejaran polisi memutuskan untuk bersembunyi di sebuah toko kelontong tua yang tampaknya telah lama ditinggalkan. Namun malam itu, mereka tiba-tiba menerima sebuah surat yang ditujukan kepada pemilik toko, meminta nasihat tentang masalah hidup. Dari sinilah terungkap bahwa toko kelontong Namiya dulunya dikenal sebagai tempat orang-orang mengirim surat untuk meminta saran, dan pemiliknya, Pak Namiya, dengan sepenuh hati menjawab mereka satu per satu. 

Keajaiban terjadi ketika para pemuda ini mulai membalas surat-surat yang terus berdatangan, membuka kembali kisah-kisah lama yang penuh harapan, kesedihan, dan penyesalan. Setiap surat mengungkap kehidupan seseorang yang berbeda, namun semuanya terhubung secara halus dan menyentuh. Higashino dengan jenius merangkai potongan-potongan cerita dari berbagai tokoh, membentuk sebuah mosaik kehidupan yang memperlihatkan bahwa setiap tindakan kecil bisa berdampak besar di masa depan. Dengan gaya penulisan yang tenang namun menghanyutkan, Keajaiban Toko Kelontong Namiya bukan hanya kisah fiksi biasa, tetapi sebuah perenungan tentang empati, pengampunan, dan makna dari memberi serta menerima nasihat. Novel ini berhasil menyentuh hati pembaca dan menunjukkan bahwa bahkan dalam keheningan sebuah toko tua, ada keajaiban yang mampu mengubah hidup banyak orang.

5. Angsa dan Kelelawar

Angsa dan Kelelawar
adalah salah satu novel Keigo Higashino yang memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengulik sisi gelap manusia melalui narasi yang rumit namun menggugah. Berbeda dari kisah detektif khasnya, novel ini menyuguhkan misteri yang berkembang perlahan, berlapis-lapis, dan mengandung dimensi psikologis yang kuat. Cerita bermula dari kasus pembunuhan seorang pengacara yang tubuhnya ditemukan di sebuah apartemen, sementara pelakunya segera menyerahkan diri dan mengaku bersalah. Namun, pengakuan ini justru menjadi titik awal dari rangkaian pertanyaan yang membingungkan: mengapa seseorang yang tampaknya tidak punya motif kuat justru mengakui kejahatan itu? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan lebih dalam? Dua anak dari pihak yang terlibat — satu adalah anak korban, satu lagi anak tersangka — perlahan terseret dalam pencarian kebenaran yang jauh lebih kelam dari dugaan mereka. Judul Angsa dan Kelelawar sendiri menjadi metafora akan dua sisi dari manusia: yang terang dan yang gelap, yang tampak di permukaan dan yang tersembunyi. Higashino dengan brilian menyusun alur yang perlahan membuka lapisan demi lapisan kebenaran, sambil mengajak pembaca merenungi tema besar tentang dosa, penebusan, dan dampak keputusan masa lalu terhadap kehidupan orang lain. Gaya bertuturnya tenang namun penuh tekanan emosional, membuat pembaca bukan hanya ingin tahu siapa pelaku sebenarnya, tetapi juga mengapa dan bagaimana semuanya bisa terjadi. Angsa dan Kelelawar adalah novel yang bukan hanya menyuguhkan misteri untuk dipecahkan, melainkan juga perenungan mendalam tentang moralitas, keluarga, dan sisi tersembunyi dari hati manusia.
 

Komentar

Postingan Populer